Selasa, 19 April 2016

Pengertian Jihad dalam Hadits, Qur’an, Syar’i


Sebelum kita berjihad maka hendaknya kita mengetahui, arti, makna dan pengertian jihad. Apa sebenarnya pengertian, makna atau arti jihad yang sebenarnya? Untuk menjawab secara hakiki dan benar, sebagai umat Islam maka kita memerlukan sumber atau literatur yang menjadi pegangan dalam menjalani hidup yaitu Kitabullah al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw. sebagai rujukan. Di samping itu, hendaknya juga memahami pengertian, arti atau makna serta pengertian jihad secara harfiah atau bahasa dari beberapa sumber.
Pengertian dan makna jihad secara bahasa

Berdasarkan kamus Al-Muhith karangan Fayruz Abadi, kata jihad secara bahasa berasal dari kata Juhd yang artinya jerih payah. Yang dapat bermakna kemampuan atau thaqah, dapat juga bermakna kesukaran atau matsaqah. Dari pendapat ini memberikan penjelasan mengenai pengertian jihad adalah mengerahkan tenaga dan kemampuan yang ada, baik perbuatan maupun perkataan. Sedangkan pendapat lain dari An-Naysaburi dalam Tafsir an-Naysaburi memberikan pengertian jihad adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencapai atau memperoleh tujuan.
Pengertian jihad dalam Al-Qur’an
Melihat makna jihad dalam bahasa al-Quran:
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩
http://islamiwiki.blogspot.com/
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Ankabut [29]: 69)
Dalam dalil firman Allah swt. yang lain, sebagai berikut:
فَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَجَٰهِدۡهُم بِهِۦ جِهَادٗا كَبِيرٗا ٥٢
Artinya: Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar. (QS al-Furqan [25]: 52).
Pengertian dan makna jihad dalam dalil hadits Nabi
Mengenai pengertian jihad dalam hadits Nabi saw.
Arti dan makna bahasa dalam al-hadits. Hadits diriwayatkan Ibnu Majah
نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
Artinya: Ya, yaitu jihad yang tidak ada perang di dalamnya, yakni ibadah haji dan umrah. (HR Ibn Majah)
Juga hadits lainnya: dari at-Tirmidzi:
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ
Artinya: Yang bernama mujahid adalah mereka yang memerangi dirinya. (HR at-Tirmidzi)
Pengertian Jihad makna syar’iyah
http://islamiwiki.blogspot.com/
Secara syariat Islam pengertian dan makna jihad adalah suatu upaya mengerahkan segenap kemampuan dalam berperang di jalan Allah secara langsung atau membantunya dengan harta, dengan (memberikan) pendapat/pandangan, dengan banyaknya orang maupun harta benda, ataupun yang semisalnya (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtâr, III/336)
Jihad juga dapat dimaknai dengan usaha mengerahkan segenap jerih payah dalam memerangi kaum kafir. (Ibnu Hajar, Asy Syaukani, Az Zarqani).
Pengertian dan makna jihad secara syariat al-Qur’an
Firman Allah swt. di dalam al-Qur’an:
قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ عَن يَدٖ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ
Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. QS. At-taubah ayat 29.
Juga firman Allah yang lain:
وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ
Artinya: Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Anfal ayat 39.
Pengertian dan makna jihad secara syariat hadits
Dalil hadits Nabi:
مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ
Artinya: Siapa saja yang berperang dengan tujuan menjadikan kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah. (Hadits Riwayat al-Bukhari).
Dalam hadits yang lain:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Artinya: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan “La Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah (Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Demikianlah pengertian, arti serta makna jihad fisabilillah atau jihad di jalan Allah swt berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Semoga kita benar-benar bisa memaknai pengertian hadits dengan benar dalam implementasi kehidupan sehari-hari.
Jihad di jalan Allah swt. atau jihad fisabilillah tidak hanya dalam peperangan menegakkan agama Allah swt. akan tetapi segala upaya baik dalam bentuk harta, tenaga, pikiran, pendapat, nasehat kebaikan, syiar agama, memerangi diri sendiri dari sifat keburukan, ceramah agama, baik dalam materiil maupun non materiil dengan tujuan menjadikan kalimat Allah menjadi paling itu. Wallahu a’lam.

Senin, 18 April 2016

Hukum dan Pandangan Islam pada Ilmu Sihir

Assalamualaikum Wr Wb.

Sebelum melangkah pada bahasan hukum sihir dalam islam, untuk runtutnya mari kita mengenali lebih dahulu definisi atau pengertian dari sihir itu sendiri. Sihir itu sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Sahara yang berarti waktu antara gelap dan terang. Kata sahara kemudian dapat diturunkan menjadi kata sahur. Sahur adalah makan pada pagi hari yang masih gelap sampai menjelang fajar dan umumnya ketika mengerjakan ibadah puasa.
Pengertian sihir secara etimologi atau basah dapat diartikan sebagai sesuatu tersembunyi dan halus. Pengertian sihir secara terminologi ilmu syara dapat diartikan sebagai jampi, jimat,mantera dan buhul-buhul (yang ditiup) yang dapat mempengaruhi hati, akal dan badan seseorang. Dari pengertian ini, sesungguhnya sihir itu dapat mempengaruhi orang lain dalam hal fisik, mental, maupun sosial. Dapat membunuh, menyakiti, membuat orang saling bermusuhan, ataupun membuat dua orang saling mencintai dan berbagai pengaruh lainnya.
 
Bagaimana pandangan Islam terhadap ilmu sihir?
Setiap orang yang menjadi tukang sihir, mereka adalah kafir.
Setiap penyihir adalah kafir, hal ini didasarkan pada dalil Firman Allah swt. dalam al-Qur’an yang berbunyi:
وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ
http://islamiwiki.blogspot.com/
Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (QS. Al-Baqarah:  102)
Dalam ayat di atas, diterangkan bahwa syaitanlah yang mengajarkan sihir kepada umat manusia dengan tujuan untuk menjadikan manusia musyrik. Naudzubillah min dzalik
Banyak orang yang hanya mengira bahwa ilmu sihir itu hukumnya hanya haram. Akan tetapi tampak jelas di dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa hukum sihir selain haram adalah kufur atau kafir.
Baca juga Maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur'an
Para pelaku sihir mengajarkan ilmu simian yaitu suatu cabang ilmu sihir yang boleh menukarkan jasmani kepada suatu bentuk lain, yang dapat dilakukan dengan kekuatan jiwa. Terdapat juga praktek ilmu sihir dengan cara mengikat seseorang, mengguna-gunai atau memelet dari istrinya, dan lain sebagainya kesemuanya ini dengan kalimat-kalimat yang kebanyakan adalah syirik, tidak bermakna dan kesesatan.
Apa hukuman bagi penyihir atau tukang sihir?
Berikut ini adalah beberapa dalil hadits yang menjelaskan tentang hukuman bagi pelaku ilmu sihir.
Tukang sihir adalah kafir atau kufur kepada Allah swt.
Dalil sabda Nabi saw: Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jauhilah tujuh perkara (dosa besar) yang membinasakan (membawa kepada kehancuran). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu? Beliau berkata: Syirik kepada Allah, Sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, Memakan riba, Memakan harta anak yatim, Membelot dalam peperangan, melontarkan tuduhan zina kepada wanita yang terjaga kehormatannya, yang beriman yang tiada menahu dengannya (Shahih, HR. Al Bukhari Muslim (89).
Juga dalil hadits lain yang menerangkan bahwa telah sampai kabar dari nabi bahwa hukuman bagi tukang sihir atau penyihir adalah dipancung dengan pedang. Hadits Dha'if. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Daruquthrn. Al-Hakim, Ath-Thabrani, lbnu Ady, dan Al-Ba1haqi. Syaikh Al-Albani men-dha"if-kannya dalam Adh-Dha’ifah , namun syaikh memandang riwayat tersebut shahih apabila dikatakan sebagai hadits mauquf.
Dari Wahb bin Munabbih berkata: diantara buku-buku yang kubaca ada yang menerangkan bahwa Allah berfirman: tiada ilah yang berhak disembah kecuali Aku. Bukanlah termasuk wali-Ku orang yang menyihir dan minta disihirkan. Juga orang yang praktek dukun dan yang meminta jasanya. Juga orang yang bertathayyur (meramal nasib dengan burung) dan yang memintanya. Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dengan, Ath-Thabrani, Al-Bazzar: dari lbnu Abbas.
Juga diceritakan Bajalah bin ‘Abdah beliau berkata: telah sampai kepada kami surat dari umar setahun sebelum meninggal yang isinya: hendaknya kalian membunuh semua penyihir, laki-laki dan perempuan.
Dari Ali bin Abi Thalib ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَيَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَقَا"ِعُ رَحِمٍ وَمُصدِّقٌ بِألسَّهْرِ
Artinya: Tiga orang yang tidak masuk suga yaitu penenggak minuman keras, memutuskan silaturahmi dan pembenar sihir. HR. oleh Ahmad, lbnu Hibban, dan Al-Hakim.
Secara marfu' yaitu hadits khusus yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrir beliau; baik yang menyandarkannya para tabi’in,  sahabat, dan yang lainnya; baik sanad hadits itu terputus atau bersambung. Dari Abdullah bi n Mas'ud meriwayatkan:
إِنَّ الرُّقْي وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَلَةَ شِرْكٌ
Artinya: sesungguhnya Ruqa, tamaim, dan tiwalah itu termasuk syirik. (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud,Ibnu Majah, lbnu Hibban, Al-hakim, dan Al-Baihaqi)
Yang disebut dengan tamimah atau tamaim adalah segala sesuatu yang dikalungkan oleh orang yang jahil pada leher mereka, pada leher anak-anak mereka dan pada binatang-binatang peliharaan mereka. Dengan mengalungkan benda-benda pada leher mereka beranggapan bahwa benda-benda tersebut dapat menangkal terhadap ‘ain-sihir pandangan mata. Hal semacam ini adalah termasuk perbuatan amalan jahiliyah. Dan barangsiapa yang meyakini dan mengamalkannya maka mereka telah syirik.
Sedangkan Tiwalah adalah merupakan salah satu bentuk sihir yang berupa mengguna-gunai wanita agar mencitai suaminya. Tiwalah juga termasuk dikelompokkan ke dalam sihir karena orang-orang yang jahil alan mengira bahwa hal tersebut dalam memberikan efek yang berbeda dengan takdir dari Allah swt.
Diceritakan dari Khaththabiy, beliau berkata: jika ruqyah itu dilakukan menggunakan al-Qur’an dengan memakai asmaul husna, maka hukumnya adalah mubah. Hal ini dikarenakan Nabi saw. pernah melakukan ruqyah kepada Hasan dan Husain. Dan beliau berkata:
أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلّ شَيْطاَنٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ  كُلّ عَيْنٍ لاَمَةٍ
Artinya: kalian berdua aku mintakan perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, hamah, dan ‘ain lemah. (hadits Shahih Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i)
Dari berbagai uraian di atas, bersumber dari dalil-dalil dalam al-Qur’an dan hadits Nabi saw. maka dapat kita garis bawahi bahwa sihir adalah merupakan dosa besar karena termasuk musyrik. Penyihir atau tukang sihir adalah kufur atau kafir
Sebagai hamba Allah hendaknya kita menggantungkan semuanya hanya kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan sihir, syirik, kufur yang hanya membuat kita rugi dunia dan akhirat. Hanya kepada Allah-lah kita bertawakal, tempat meminta dan memohon pertolongan. 

Wassalamualaikum Wr Wb.

Ancaman, Dosa, Siksa dari Percikan Air Seni

Assalamualaikum Wr Wb.

Hai Para sahabat semua,tahukah anda betapa  bahaya sisa air kencing atau percikan air kencing kita itu sangat membahayakan kita nantinya???

Dalam Islam, Air seni atau air kencing (manusia) itu adalah najis, dan apabila tubuh,pakaian atau suatu tempat terkena air seni maka hukumnya adalah wajib untuk mensucikan tubuh, pakaian tempat yang mengenainya baik itu tubuh, pakaian, wadah, tanah, atau selainnya.
Selain kewajiban untuk mensucikan hadits dari air kencing manusia, terdapat perkara yang lebih mejadi fokus perhatian kita yaitu akibat-akibat, ancaman, dosa, serta siksaan yang dapat diterima kepada seseorang karena tidak menjaga,, menyepelekan bersuci dari percikan air seni atau air kencing.
Apa saja akibat, ancaman, dosa, serta siksa bagi mereka yang tidak bersuci dari najis percikan air seni atau air kencing?
Berikut ini adalah beberapa dalil baik dari al-Qur’an dan dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang menerangkan berbagai macam ancaman, akibat-akibat yang diterima, dosa, serta siksa bagi mereka yang menyepelekan dan tidak menjaga diri dari kebersihan atau bersuci najis air kencing
Mendapat Siksa atau adzab di alam kubur

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dalil hadits Nabi saw. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: suatu hari Nabi saw. berjalan melewati dua buah kuburan, kemudian beliau Nabi berkata:
إنّهما ليعذّبان وما يعذّبان في كبير أمّا أحدهما فكان يمشي بالنّميمة وأما الأخر فكان لا يستبرئ من البول
Artinya: kedua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Mereka disiksa bukan karena telah mengerjakan dosa besar, yang seorang suka mengadu domba kesana-kemari, sedangkan yang satunya lagi tidak menjaga diri dengan seksama terhadap air seni. (Hadits Shahih., HR. Al-bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dari Ibnu Abbas)
Juga dalil Hadits Nabi Muhammad saw. beliau bersabda yang artinya: jagalah diri dengan seksama terhadap air seni, sesungguhnya kebanyakan adzab kubur itu disebabkan olehnya. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthnr dari Abu Hurairah, lbnu Abi Syaibah, lbnu Majah, Ad-Daruquthni Al-Ajum dalam Asy-Syari'ah, dan Al-Hakim. Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Adz­ Dzahabi dan Al-Albani)
Shalat yang tidak sah
Hal yang sudah bukan rahasia umum lagi bagi kita kaum Muslim, bahwa seseorang yang tidak dapat menjaga diri, tubuh, dan pakaiannya dari air kencing atau seni maka shalatnya tidak sah dan tidak diterima karena tidak terbebas dari najis atau hadats.
Menjadi penghuni neraka dan menambah beban siksa penghuni neraka lainnya
Diriwayatkan Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’ meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah saw, bersabda: Empat kelompok penghuni neraka yang akan mengganggu para penghuni neraka lainnya dikarenakan siksaan yang mereka terima. Mereka beringsut di antara hamim (cairan panas mendidih) dan jahim (nyala api yang berkobar-kobar), sembari berteriak-teriak mengeluarkan sumpah serapah. Para penghuni neraka lainnya saling bertanya kepada sesama mereka. Kenapa mereka itu mengganggu kita yang menambah beban siksaan kita saja. Keempat orang itu, yang pertama seseorang di atas kepalanya terdapat peti bara api, kedua seorang yang berjalan sambil menyeret ususnya, ketiga seorang yang mengalir nanah dan darah dari mulut mereka. Dan keempat, seorang yang memakan daging tubuh mereka sendiri.
Rasulullah saw. melanjutkan, para penghuni neraka akan bertanya-tanya tentang orang yang memikul peti bara api di atas kepalanya. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang jahat itu mati sambil membawa beban harta manusia di lehernya. Lalu mereka akan menanyakan tentang orang yang berjalan sembari menyeret usus mereka. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang jahat itu adalah orang yang tidak mempedulikan dimana air seninya mengenai (badan atau pakaiannya) dan tidak menyucinya. Kemudian mereka bertanya soal orang yang mengalir nanah dan darah dari mulut mereka. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini di jawab: orang jahat tersebut adalah orang yang dahulu mendapati kata-kata buruk dan dia tidak menikmatinya. (dalam riwayat hadits lain menyatakan, mereka dulunya makan daging manusia dan berjalan sambil mengadu domba. Kemudian mereka menanyakan tentang orang yang memakan daging tubuh mereka sendiri. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang tersebut adalah orang yang dulunya makan daging manusia (berbuat menggunjing atau ghibah). (HR. lbnu Abt Dunya, Abu Nu'aim, Ath­ Thabrani Kabir dan lbnul Mubarak)
Dari keterangan dalil-dalil di atas, maka tampak jelas keterangan-keterangan yang dapat kita ambil bahwa dari hal yang kecil hanya karena tidak dapat menjaga diri dari kotoran atau percikan air seni atau air kencing yang menempel pada tubuh, pakaian atau tempat kita hal ini dapat berdampak pada tidak sahnya sholat, malapetaka yang besar antara lain siksa siksa kubur serta siksa api neraka dan bahkan hanya menjadi beban tambahan siksa bagi penghuni neraka lainnya.
Mari kita berhati-hati dengan air seni atau air kencing. Ketahuilah mereka air seni dapat berperncar dan terpisah sehingga percikannya dapat mengenai bagian tubuh, pakaian  atau tempat yang kita tinggali. Hendaknya kita selalu memohon ampunan, kesejahteraan dan kemurahan dari Allah swt. 
Wassalamualaikum Wr Wb.
 

Rabu, 13 April 2016

KEAJAIBAN SHODAQOH

Assalamualaikum Wr Wb.


   Hai para sahabat-sahabat blogger semua, perkenankanlah saya membagi sedikit yang saya tahu mengenai Rahasia ALLAH dari SHODAQOH.Semoga bisa kiranya menambah ilmu buat saya  dan teman-teman semua.


Berikut
Katakanlah,Sesungguhnya Tuhan-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”. ( QS Saba,34: 39)

Disinilah indahnya Islam, bagi yang kaya ada amanah baginya untuk menyedekahkan sebagian hartanya bagi fakir miskin dan orang yang membutuhkan senantiasa mau untuk menerima harta tersebut. Selain untuk menjaga silaturrahim, hal ini juga dapat membersihkan harta dan membantu saudara yang membutuhkan.

Kenapa harus bersedekah? Karena dengan bersede
kah merupakan salah satu cara bagi kita untuk mendapatkan keberkahan harta.

Abdul Fadhil Abu Al-Hamdi, menjelaskan bahwa makna berkah (Al Barokah) ialah berkembang dan bertambah. Artinya ada proses perbanyakan, berlipat ganda dan semakin meluas. Hal ini bisa terjadi jika kita telah memenuhi beberapa syarat, seperti ikhlas, mensyukuri nikmat, qona’ah dalam mencari harta dan menjaga amalan lainnya. Hal ini merupakan p
erilaku dan sifat yang saling melengkapi.

Berkah juga berarti kebahagiaan. Karena sama artinya kita membagi-bagikan kebahagiaan kepada orang lain. Banyak sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman dan lainnya, bersede
kah menjadi hal yang sangat ringan bagi mereka.

Berkahnya harta mereka dibalas oleh Allah dengan janji pahala yang besar disisinya. Kita lihat, dalam setiap p
erilaku mereka, terpancarlah aura kebahagiaan, suasana cinta pada Allah Maha Pencipta dan Pemberi Rizki.

Bagi fakir miskin, bagaimanakah bentuk keberkahan harta yang mereka rasakan. Sama, mereka akan merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan mereka bersyukur atas itu, disanalah bentuk rahasia Allah. Kita tidak tahu manakah ujian yang paling berat, apakah memiliki harta yang banyak ataukah harta yang sedikit, keduanya memiliki tantangan dan godaanyang sama. Intinya ketika dasar iman dan taqwa ada dalam diri masing-masing, kekhawatiran atas dunia bukanlah menjadi agenda utama dalam hidupnya.
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah (HR. Ahmad)

Satu hal yang harus kita sadari, bahwa harta adalah amanah yang sungguh berat, karena Allah akan menanyakan kemanakah kita gunakan harta yang dikaruniakan kepada kita, jangan sampai dihadapan-Nya kelak, kita akan tertunduk lesu tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Marilah kita meraih dengan sungguh-sungguh nikmat keberkahan harta karena Allah telah menjanjikan balasan yang indah pada kita.

Rasulullah telah bersabda dalam hadis yang lain, “Manusia yang terbaik diantara kamu adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.” Artinya, selama seseorang hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, maka selama itu orang tersebut tidak akan pernah mencapai derajat manusia terbaik. Semakin luas seseorang itu member manfaat kepada orang lain, maka akan semakin tinggilah derajatnya disisi Allah.

Berbuat baik dan menabur kasih sayang adalah sifat yang paling mulia, sekecil apapun perbuatan baik dan kasih sayang itu dilakukan. Mungkin orang lain tidak merasakan kasih sayang dan perbuatan baik yang dilakukan karena terlalu kecil nilainya, namun bagaimanapun disisi Allah perbuatan itu tetap dihitung dan bernilai besar di dunia maupun akhirat. Firman Allah: “Barangsiapa melakukan perbuatan baik walaupun sebesar dzarrah, Allah akan melihatnya.” (QS. Az Zilzal: 7)
.

Bila artikel ini bermanfaat, silahkan share kepada teman, keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat yang Anda sayangi. “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR Muslim)
Diantara perisai untuk menghadapi orang yang hasad adalah shodaqoh dan amalan baik.
Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim Rohimahullah Ta'ala :
Shodaqoh dan perbuatan baik sesuai kemampuanya adalah amalan yang punya pengaruh yang ajaib dalam menolak bencana, menolak pandangan hasad dan kejelekan orang yang dengki.

Seandainya tidak ada dalam masalah ini melainkan hanya testimoni umat-umat yang lampau dan yang sekarang, niscaya itu cukup.

Maka hampir-hampir pandangan dengki, hasad, dan gangguan itu tidak mampu menguasai orang yang gemar berbuat kebaikan dan bershodaqoh.

Jika dia tertimpa sesuatu dari hal tersebut,maka dia akan disikapi dengan kelembutan, ada bantuan dan dukungan. Dan dia akan mendapatkan akibat yang terpuji.

Maka orang yang gemar berbuat kebaikan dan bershodaqoh itu ada di dalam jaminan kebaikan . Dia punya tameng pelindung dan benteng kokoh pemberian dari Allah.

Secara global: syukur itu adalah penjaga kenikmatan dari segala perkara yang bisa menyebabkan hilangnya kenikmatan tersebut.

Kado Panjang Umur Buat Para Penggemar Sedekah

Ada kabar gembira buat para penggemar sedekah. Dengan rajin bersedekah Insya Allah Anda akan panjang umur. Simak hadits berikut: “Sedekahnya seorang muslim menambah usia, mencegah dari jeleknya kematian, dan Allah akan menghilangkan keangkuhan dan kesombongan karena sedekah.”


Panjang umur karena sedekah bisa berarti panjang umur secara hakiki, yaitu Allah menambah usianya sehingga hidup di dunia lebih lama lagi. Allah Maha Kuasa atas semua itu dan tidak ada yang sulit bagi-Nya. Bila Allahsudah berkehendak, semua itu bisa terjadi.

Bisa juga panjang umur secara majasi, yaitu walaupun usianya pendek/meninggal di usia muda, tetapi pasca kematiannya dia tetap dikenang orang lain karena kedermawanannya. Senantiasa hidup di tengah-tengah pembicaraan orang-orang yang akan yang mengenang akan kebaikannya selama ini. Selalu dirindukan keberadaannya sepanjang masa. Dia selalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat karena track record kebaikan yang telah dilakukannya. Inilah yang dimaksud panjang umur. Dia tetap hidup walaupun telah lama meninggal.

Selain itu, sedekah juga bisa menunda kematian. Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.

Alkisah, suatu hari Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”

“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk memberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Kematian memang di tangan Allah. Justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih wasallam bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. Jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…SEDEKAH.

Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar,  maka sesungguhnya Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78).

Bila artikel ini bermanfaat, silahkan share kepada teman, keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat yang Anda sayangi. “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR Muslim).

Sedekah Melapangkan Rezeki 

Memberi sedekah kepada sesama tidak mengurangi harta. Sebaliknya, itu akan membuat rezeki makin bertambah. Yang penting ikhlas. Sedekah amalan istimewa. Terkhusus pada bulan Ramadan. Itu antara lain tersirat dalam sebuah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan HR Tirmizi. Bunyinya, "Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan."

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin, Prof Dr H Ambo Asse MAg, mengatakan bahwa setiap muslim dianjurkan bersedekah. "Tidak akan ada ruginya," ujarnya seusai mengisi ceramah kultum di Kampus II UIN.

Sedekah, kata dia, justru akan makin melapangkan rezeki. Semakin rajin mengulurkan tangan kepada sesama, semakin banyak pula rezeki yang akan mendatangi. Bahkan dari arah yang tidak diduga sekalipun.

Karena itu, menurut Ambo Asse, Ramadan harusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya sedekah. "Dalam sejarah, dahulu banyak sahabat nabi yang bahkan rela mengorbankan hartanya," tambahnya.

Jika bersedekah satu, Allah SWT akan melipatgandakan menjadi tujuh. Setiap kelipatan berjumlah seratus. Jadi, sedekah satu pun akan menghasilkan 700.

Itu ditegaskan dalam Alquran, Surah Al Baqarah ayat 261; "Barang siapa menginfakkan hartanya di jalan Allah, diibaratkan seseorang yang menanam satu biji. Dari biji akan tumbuh menjadi tanaman yang bercabang tujuh. Pada setiap cabang menghasilkan buah sebanyak sebuah seratus biji."
Ambo Asse menambahkan, Allah juga menggarisbawahi bahwa Dia akan melipatgandakan sesuai kehendaknya. "Jadi kalau bersedekah, terutama saat Ramadan, pahala dan rezeki yang akan kita dapat, semakin besar," imbuhnya.

Jadi, sungguh mulia bersedekah. Semua dilipatgandakan. Jika sedekah ini sudah menjadi budaya, ucap Ambo Asse, tidak akan ada lagi umat yang betul-betul miskin.



Berasa Bedanya Sedekah Dengan Ilmu dan Tanpa Ilmu

Ada orang yang bersedekah Rp 1.000 saat shalat Jumat. Usai shalat jumat dia makan di warung dekat masjid. Ketika akan bayar, makanannya dibayarin teman. Jumlahnya katakanlah Rp. 10.000. Tapi orang ini tidak menyadari dengan ilmunya bahwa peristiwa ini ada kaitannya dengan sedekahnya yang Rp. 1.000 saat shalat jumat. Orang ini tetap bersyukur kepada Allah ada yang bayarin makanaannya. Tapi orang ini bersyukur biasa, bersyukur bukan karena ilmunya. Bedanya ada, yakni di peningkatan amaliyahnya kemudian.

Terus kita ambil contoh yang berbeda. Sebut saja ada yang bersedekah Rp 1.000. Sama peristiwanya. Setelah sedekah, dia kemudian makan dan ada yang bayarin. Berbeda dengan orang yang satu. Ia bersedekah yang sama, sama-sama Rp 1.000. Tapi yang satu ini memahami satu hal. Memangnya ada apa? Apa hubungannya makan siang dengan sedekah yang Rp 1.000?

Ada...! Bukankah Allah telah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau bersedekah.  Dan di beberapa hadits kita menemukan bahwa Allah berkehendak juga membayar sedekah seseorang dengan tunai, ajjaltu lahu fil ‘aajil. Dibayar kontan. Nah,itulah bayaran kontannya. Cuma kalo gak tahu, dianggapnya peristiwa biasa. Bukan hadiah dari Allah sebab amalnya.

Menarik nggak? Tergantung. Harusnya ini menjadi brosur yang tidak terlihat untuk percaya lebih lagi akan janji-Nya dan memperbaiki dan meningkatkan amalnya. Tapi sayang, kebanyakan orang tidak berilmu. Sekalinya ada orang yang berilmu, tidak berani menyandarkan ilmunya ini menjadi sebuah keyakinan, bahwa peristiwa itu terjadi pastilah ada hubungannya dengan sedekah saat shalat jumat.

Tampaklah di sini bedanya antara orang yang beramal dengan ilmu dan tanpa ilmu. Insya Allah saya meyakini, mengapa pula berbeda pula derajatnya, sebab memang amalannya berbeda. Seseorang yang berilmu akan beramal dengan ilmunya itu. Sehingga ada keyakinan dan harapan. Bukankah keyakinan dan harapan juga adalah sebuah kelezatan ibadah tersendiri?

Di dalam kehidupan nyata,katakanlah kita bekerja, maka akan terasa beda bila kita tahu hasilnya. Ketika kita tahu bahwa pekerjaan kita menguntungkan, kita bersemangat. Dan bukanlah kesalahan memotivasi diri dengan hal-hal yang halal yang menjadi hak kita.Membuat kita lebih bersemangat dan berkreasi.

Mengetahui fadhilah/keutamaan ibadah juga merupakan suatu ilmu. Mengetahuinya saja sudah merupakan ibadah. Dan mencari ilmu juga suatu ibadah. Lekas ia akan berpengaruh buat langkah dan hasil langkah kita.

"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar:9). “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujaadilah:11).

Rahasia Sedekah Di Saat Lapang dan Sempit

Sedekah di saat lapang merupakan hal biasa, meski banyak juga yang enggan melakukannya. Sedekah di saat sempit...itu baru luar biasa. Mampukah kita melakukan sedekah di saat sempit...? Hanya orang-orang yang diberi keteguhan iman yang kuat yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.

Pernahkah kita mengalami pada suatu saat dimintai sumbangan untuk keperluan umat, dan pada saat itu kita hanya memberikan uang ala kadarnya, yang penting sudah nyumbang.

Padahal uang yang dikeluarkan untuk sedekah itu tidak seberapa jumlahnya dibandingkan uang yang kita keluarkan untuk hura-hura, kumpul dengan teman makan di restoran, beli baju mewah di mall ekslusif, beli sepatu bermerk dari luar negeri, beli parfum dengan harga ratusan ribu rupiah.

Pernahkan kita merenungkan hal ini? Betapa beratnya kita mengeluarkan uang banyak untuk bersedekah dan betapa ringannya kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal-hal yang sifatnya komsumtif dan duniawi semata.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal." (QS Ali Imron: 133-136).

Anjuran mulia  dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam kondisi sesulit apapun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. Meski cuma sedikit, yang terpenting adalah pemberian itu diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho ilahi. Namun terkadang, kita sangat sulit memberikan sedikit apa yang kita punya dalam kondisi lapang, apalagi dalam kondisi sempit dengan berbagai pertimbangan.
Padahal anjuran dan perintah Allah swt berinfaq pada waktu lapang tujuannya untuk menghilangkan perasaan sombong, serakah dan cinta yang berlebihan terhadap harta. Sedangkan bersedekah di waktu sulit dianjurkan agar sifat manusia yang lebih suka diberi dari pada memberi bisa berubah menjadi suka memberi daripada diberi. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS At Thalak: 7).
Rasulullah saw pun mengingatkan kita untuk jangan segan bersedekah, meski hanya dengan sebutir kurma. "Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir kurma." (HR Muttafaq alaih).
Semoga kita senantiasa menjadi umat yang  selalu ingat bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sulit.  Jika kita sudah tidak memiliki apapun untuk diberikan, bersedekahlah dengan doa. Sesungguhnya Allah swt senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beramal shalih dengan keikhalasan dan hanya berharap ridho darinya.

Bila artikel ini bermanfaat, silahkan share kepada teman, keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat yang Anda sayangi. “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR Muslim).